Melihat Padang Dari Masa Ke Masa
Rabu, 22 Juni 2011 - 19:03:37 WIBMelihat Padang Dari Masa Ke Masa
Selain menikmati keindahan berbagai bangunan tua bergaya kolonial, dengan campuran Tionghoa, bahkan perpaduan India (Keling), pengunjung juga bisa melihat Jalur kereta api Pulau Aie (Pulau Air) menghubungkan Pulau Air (Padang) ke Padang Panjang sepanjang 71 km. Jalur ini kelar dibangun pada 1891 dan menjadi jalur utama perdagangan di Padang. Sejak 1980-an jalur ini berhenti beroperasi.
Di kawasan ini tergambar dengan jelas Padang saat masa dahulunya. Di mana nenek moyang orang Padang masih menjadi pedagang rempah-rempah. Kegiatan para saudagar Padang terlihat jelas di sini.
Jika menengok lebih ke belakang, ke gedung yang bisa jadi dulu berfungsi sebagai pusat perdagangan, kondisinya sudah lebih parah. Di satu sisi sudah ambruk akibat gempa akhir September lalu yang mengguncang Sumatra Barat terutama di Padang. Belum lagi retak-retak yang terjadi di sekujur tembok. Sayangnya, gedung itu tak bisa ditilik hingga ke dalam karena sudah dimiliki oleh pihak lain.
Lantas kapan wisata kota lama itu terwujud? Kita tunggu saja, sebab gempa yang mengguncang Padang sebulan lalu itu agaknya mengharuskan pemerintah Kota Padang berkonsentrasi pada urusan penanganan pasca gempa. Minimnya anggaran tampaknya membuat Pemko tak bisa berbuat banyak, belum lagi pasar raya yang mesti dibenahi maupun pemindahan pusat pemerintahan ke Air Pacah yang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum kunjung selesai. (***)
Baca juga :
Sensasi Bersantai Di Taman Imam Bonjol Ragam Sensasi dari Ngarai Sianok Tampil Gaya dengan Besi Putih Serunya Bersepeda Keliling Pulau Pisang Malam Minggu Berburu Diskon
Rabu, 22 Juni 2011 - 19:03:37 WIB

Selain menikmati keindahan berbagai bangunan tua bergaya kolonial, dengan campuran Tionghoa, bahkan perpaduan India (Keling), pengunjung juga bisa melihat Jalur kereta api Pulau Aie (Pulau Air) menghubungkan Pulau Air (Padang) ke Padang Panjang sepanjang 71 km. Jalur ini kelar dibangun pada 1891 dan menjadi jalur utama perdagangan di Padang. Sejak 1980-an jalur ini berhenti beroperasi.
Di kawasan ini tergambar dengan jelas Padang saat masa dahulunya. Di mana nenek moyang orang Padang masih menjadi pedagang rempah-rempah. Kegiatan para saudagar Padang terlihat jelas di sini.
Jika menengok lebih ke belakang, ke gedung yang bisa jadi dulu berfungsi sebagai pusat perdagangan, kondisinya sudah lebih parah. Di satu sisi sudah ambruk akibat gempa akhir September lalu yang mengguncang Sumatra Barat terutama di Padang. Belum lagi retak-retak yang terjadi di sekujur tembok. Sayangnya, gedung itu tak bisa ditilik hingga ke dalam karena sudah dimiliki oleh pihak lain.
Lantas kapan wisata kota lama itu terwujud? Kita tunggu saja, sebab gempa yang mengguncang Padang sebulan lalu itu agaknya mengharuskan pemerintah Kota Padang berkonsentrasi pada urusan penanganan pasca gempa. Minimnya anggaran tampaknya membuat Pemko tak bisa berbuat banyak, belum lagi pasar raya yang mesti dibenahi maupun pemindahan pusat pemerintahan ke Air Pacah yang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum kunjung selesai. (***)
Baca juga :

