Miris, Nasionalisme Generasi Muda Mulai Pudar
Rabu, 17 Agustus 2011 - 23:35:00 WIBMiris, Nasionalisme Generasi Muda Mulai Pudar
Rasa nasionalisme generasi muda diakui Walikota Padang, H. Fauzi Bahar memang mulai luntur, namun presentasenya tidak 100 persen. Dikatakannya, pemuda merupakan tulang punggung bangsa yang harus memiliki cita-cita paling tinggi dan paling luhur, terutama untuk memajukan bangsanya. Salah satu cara diantaranya mereka bisa memelihara jati diri dan karakter bangsa untuk ditumbuhkembangkan, sehingga rasa nasionalisme nantinya menjadi sesuatu yang memang benar dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, cara sederhana untuk membentuk jati diri dan karakter bangsa yang nantinya bermuara pada tumbuhnya rasa nasionalisme hendaknya dimulai dengan disiplin, jujur dan mengasah kecerdasan. ''Disiplin bangun aja masih dibangunin bagaimana membangun bangsa dan negara,''tanyanya.
Cobalah mulai sekarang para generasi muda terutama pelajar memulai dengan disiplin sekolah dan belajar. Kedua jujur, dan ketiga tidak kalah pentingnya cerdas. ''Bagaimana nasionalismenya bisa tinggi kalau tidak percaya diri dengan kecerdasannya,'' katanya. Berikutnya toleransi, kebersamaan, patriotisme juga harus ditumbuhkembangkan di sekolah, yang merupakan wadah terdekat membentuk jati diri dan karakter bangsa selain ditumbuhkembangkan dilingkungan masyarakat.
Diakui media sangat berperan dalam menumbuhkan rasa nasionalisme lewat siaran dan pemberitaan yang mencerminkan kondisi sosial real. Dalam artian secara langsung memberikan pendidikan karakter bangsa. Rasa nasionalisme pemuda di Padang diakuinya masih bisa diandalkan, meski diakui masih ada pergeseran atau penurunan. Salah satu upaya untuk mengantisipasi melunturnya nasionalisme dengan penguatan penanaman pendidikan jati diri dan karakter bangsa. Menanamkan sebuah kebanggaan menjadi bagian dari Indonesia, bangga menjadi orang Minang. ''Mulailah dari diri sendiri, disiplin, tangguh, cerdas. Peduli ini yang mesti ditumbuhkembangkan guna membangun kebanggaan cinta Tanah Air, cinta produk sendiri,'"katanya.
Diakui ada satu dua yang memang dalam mengantisipasi demokratisasi itu kebabalasan. Artinya kebebasan berdemokrasi diartikan sangat bebas bahkan kebabalasan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Bambang Sutrisno mengatakan, meski warga Padang dengan kearifal lokal mampu melakukan antisipasi, namun intervensi politik yang begitu keras dan kuat menyebabkan kendali jati diri semakin kacau, sehingga generasi muda cenderung keluar dari koridor kepercayaan, agama dan sebagainya. Di tataran lokal marak terjadi bentrokan para pemuda yang sebenarnya dipicu oleh pemuda itu sendiri.
Dengan kondisi seperti itu, mau tidak mau, suka tidak suka masyarakat harus mulai untuk berubah. Intinya bagaimana upaya untuk menghindari pemuda agar tidak dijadikan objek. Dalam upaya melakukan suatu perubahan, pemuda hendaknya harus diperlakukan sebagai subjek. Mereka yang harus melakukan perubahan sendiri. Jangan dijadikan objek melakukan hal-hal kearah negatif untuk melemahkan benteng mereka dari gempuran budaya asing.
Terkait pemahaman tentang nasionalisme, menurutnya nasionalisme merupaka sebuah paham yang menunjukkan kecintaan para generasi muda terhadap tanah air, kebanggaan memiliki bangsa dan negara, dan bagaimana mereka membangun negara agar ke depan menjadi lebih baik. Namun disisi lain harus diperhatikan bahwa tugas mereka sangat berat terhadap gempuran dari berbagai budaya yang datang dari luar. Dengan memiliki beragam macam budaya, paling tidak bisa digunakan untuk membentengi diri. Hal itu dimulai dari diri sendiri, pemuda, orang tua, masyarakat dan pemerintah dengan berbagai kebijakan dan aturan yang berpihak pada keterlindungan budaya.
Lebih jauh bambang menuturkan lunturnya rasa nasionalisme tercermin dari masih adanya pelajar yang enggan mengikuti upacara bendera, serta aksi menginjak bendera yang kadang dilakukan saat menyampaikan aspirasi (demo). Begitu juga siswi SMA Negeri 6 Febby Sriandari berpandangan menumbuhkan rasa nasionalisme pada kalangan pelajar hendaknya diawali dengan menggunakan produk dalam negeri dan penggunaan bahasa Indonesia.
Baca juga :
Ratusan Napi Belajar Islam SD dan SMP yang Pungut Biaya Dapat Sanksi Kerjasama Toko Buku, Kepsek Bisa Dipecat Fatamorgana Sekolah Gratis Yuk, Belajar Ngaji dan Bahasa Arab di Pesantren Ramadhan
Rabu, 17 Agustus 2011 - 23:35:00 WIB

Rasa nasionalisme generasi muda diakui Walikota Padang, H. Fauzi Bahar memang mulai luntur, namun presentasenya tidak 100 persen. Dikatakannya, pemuda merupakan tulang punggung bangsa yang harus memiliki cita-cita paling tinggi dan paling luhur, terutama untuk memajukan bangsanya. Salah satu cara diantaranya mereka bisa memelihara jati diri dan karakter bangsa untuk ditumbuhkembangkan, sehingga rasa nasionalisme nantinya menjadi sesuatu yang memang benar dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, cara sederhana untuk membentuk jati diri dan karakter bangsa yang nantinya bermuara pada tumbuhnya rasa nasionalisme hendaknya dimulai dengan disiplin, jujur dan mengasah kecerdasan. ''Disiplin bangun aja masih dibangunin bagaimana membangun bangsa dan negara,''tanyanya.
Cobalah mulai sekarang para generasi muda terutama pelajar memulai dengan disiplin sekolah dan belajar. Kedua jujur, dan ketiga tidak kalah pentingnya cerdas. ''Bagaimana nasionalismenya bisa tinggi kalau tidak percaya diri dengan kecerdasannya,'' katanya. Berikutnya toleransi, kebersamaan, patriotisme juga harus ditumbuhkembangkan di sekolah, yang merupakan wadah terdekat membentuk jati diri dan karakter bangsa selain ditumbuhkembangkan dilingkungan masyarakat.
Diakui media sangat berperan dalam menumbuhkan rasa nasionalisme lewat siaran dan pemberitaan yang mencerminkan kondisi sosial real. Dalam artian secara langsung memberikan pendidikan karakter bangsa. Rasa nasionalisme pemuda di Padang diakuinya masih bisa diandalkan, meski diakui masih ada pergeseran atau penurunan. Salah satu upaya untuk mengantisipasi melunturnya nasionalisme dengan penguatan penanaman pendidikan jati diri dan karakter bangsa. Menanamkan sebuah kebanggaan menjadi bagian dari Indonesia, bangga menjadi orang Minang. ''Mulailah dari diri sendiri, disiplin, tangguh, cerdas. Peduli ini yang mesti ditumbuhkembangkan guna membangun kebanggaan cinta Tanah Air, cinta produk sendiri,'"katanya.
Diakui ada satu dua yang memang dalam mengantisipasi demokratisasi itu kebabalasan. Artinya kebebasan berdemokrasi diartikan sangat bebas bahkan kebabalasan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Bambang Sutrisno mengatakan, meski warga Padang dengan kearifal lokal mampu melakukan antisipasi, namun intervensi politik yang begitu keras dan kuat menyebabkan kendali jati diri semakin kacau, sehingga generasi muda cenderung keluar dari koridor kepercayaan, agama dan sebagainya. Di tataran lokal marak terjadi bentrokan para pemuda yang sebenarnya dipicu oleh pemuda itu sendiri.
Dengan kondisi seperti itu, mau tidak mau, suka tidak suka masyarakat harus mulai untuk berubah. Intinya bagaimana upaya untuk menghindari pemuda agar tidak dijadikan objek. Dalam upaya melakukan suatu perubahan, pemuda hendaknya harus diperlakukan sebagai subjek. Mereka yang harus melakukan perubahan sendiri. Jangan dijadikan objek melakukan hal-hal kearah negatif untuk melemahkan benteng mereka dari gempuran budaya asing.
Terkait pemahaman tentang nasionalisme, menurutnya nasionalisme merupaka sebuah paham yang menunjukkan kecintaan para generasi muda terhadap tanah air, kebanggaan memiliki bangsa dan negara, dan bagaimana mereka membangun negara agar ke depan menjadi lebih baik. Namun disisi lain harus diperhatikan bahwa tugas mereka sangat berat terhadap gempuran dari berbagai budaya yang datang dari luar. Dengan memiliki beragam macam budaya, paling tidak bisa digunakan untuk membentengi diri. Hal itu dimulai dari diri sendiri, pemuda, orang tua, masyarakat dan pemerintah dengan berbagai kebijakan dan aturan yang berpihak pada keterlindungan budaya.
Lebih jauh bambang menuturkan lunturnya rasa nasionalisme tercermin dari masih adanya pelajar yang enggan mengikuti upacara bendera, serta aksi menginjak bendera yang kadang dilakukan saat menyampaikan aspirasi (demo). Begitu juga siswi SMA Negeri 6 Febby Sriandari berpandangan menumbuhkan rasa nasionalisme pada kalangan pelajar hendaknya diawali dengan menggunakan produk dalam negeri dan penggunaan bahasa Indonesia.
Baca juga :

